Masyarakat Ekonomi Asean dalam Pandangan Genit Seniman

Masyarakat Ekonomi Asean dalam Pandangan Genit Seniman

Oleh Syamsul ‘Icul’ Barry

 

I

Sudah hampir setahun kita menjalani apa yang disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Fokus MEA meliputi: Asia Tenggara sebagai kesatuan pasar dan produksi; MEA akan dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi yang tinggi; MEA akan dijadikan sebagai kawasan yang memiliki perkembangan ekonomi yang merata dengan prioritas Usaha Kecil dan Menengah (UKM) ; MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian global. Jika ASEAN diibaratkan sebagai sebuah komunitas, dengan demikian menjadi bagian dari komunitas global sehingga segala hal yang berkaitan kepentingan ASEAN tidak dapat dipisahkan dari fenomena globalisasi.

Masyarakat di seluruh negara yang tergabung dalam ASEAN dengan sendirinya menjadi bagian sistem globalisasi. Globalisasi menjadi kekuatan mempengaruhi pola pikir dan ada baiknya jika ditanggapi secara positif meningat bahwa Asia Tenggara adalah kawasan yang memiliki kesamaan sejarah. Kawasan ini telah lama menjadi perlintasan silang budaya-budaya besar seperti India, Cina, Arab dan Eropa. Di kawasan ini juga telah lama terjadi pertemuan antara budaya lokal dengan budaya-budaya besar tersebut, sehingga bisa dijadikan modal dasar dalam menghadapi MEA yang terintegrasi dengan ekonomi global.

Efek globalisasi terhadap keberadaan budaya lokal atau budaya etnik ditanggapi secara  beragam. Pertama, sebagian masyarakat menganggap bahwa globalisasi akan menyebabkan homogenisasi dan menghilangkan budaya lokal. Kedua, globalisasi memunculkan hibridisasi budaya antara budaya lokal dan budaya global. Ketiga, globalisasi menimbulkan konflik budaya. Kehilangan identitas atau konflik budaya demi mempertahankan identitas budaya dalam menghadapi ekonomi dan budaya global bukanlah pilihan yang bijak. Dialog antar budaya dalam mayarakat global merupakan sebuah keniscayan. Hibridisasi budaya merupakan fenomena global yang terjadi di berbagai kawasan terutama negara-negara bekas jajahan Barat.

Dari beberapa penelitian menunjukan perubahan dalam seni tradisi berjalan seiring dengan perkembangan wacana (discourses) dalam budaya, ilmu pengetahuan dan sosial, berupa perubahan pola pandang dari tradisi ke Modern dan ke Post modern, Pada penelitiannya, Piliang (2007) menyatakan perubahan seni tradisi tidak terlepas dari perkembangan wacana posmodern, karena disamping membukakan ruang eksistensi bagi seni tradisi, sekaligus menawarkan sebuah tantangan baru bagi konsep tradisi. “Tradisi” berdasarkan pandangan konservatif adalah bentuk karya, gaya, konvensi atau kepercayaan yang direpresentasikan sebagai kelanjutan dari masa lalu ke masa kini. Tradisi adalah sesuatu yang bertahan lama (durable) atau berkelanjutan dari generasi ke generasi, yang diterima sebagai ‘a taken for granted’, tanpa ada ruang di dalamnya bagi interpretasi. Akan tetapi, berdasarkan pandangan yang lebih progresif, tradisi dilihat sebagai sesuatu yang terbuka bagi re interpretasi. Tradisi memang anti perubahan radikal, tetapi dalam kadar tertentu membuka diri bagi transformasi.

 

II

Paham yang menentang “perubahan” tetapi dalam kadar tertentu mentolelir trasformasi disebut paham konservatif (conservative), yaitu paham yang spirit utamanya adalah memelihara yang ada (to converse). Prinsip tradisionalisme adalah salah satu pilar utama paham konservatif, berupa penghormatan dan keterikatan kuat pada kebiasaan dan lembaga-lembaga yang mapan (established), dengan mempertahankan segala sesuatu yang sudah akrab (familiar). Dijelaskan lebih lanjut menurut Piliang (2007) seni tradisi di masa sekarang di satu pihak, untuk tetap bisa bertahan hidup, membutuhkan daya tarik dan pesona, berupa inovasi-inovasi kreatif yang bersunber dari tradisi itu sendiri; di pihak lain, melakukan perubahan dan inovasi dari tradisi sama artinya dengan menghapus tradisi itu sendiri, karena tradisi tidak mentolerir perubahan, meskipun dapat melakukan transformasi.

Seni tradisi menghadapi paradoks semacam ini, yang terombang ambing diantara kebutuhan inovasi dan tuntutan meneruskan kebiasaan (habit). Pada masa sekarang seni tradisi di kehidupan masyarakat umum (non tradisional) tidak lagi dikembangkan dalam rangka pengulangan, reproduksi atau repetisi tradisi, melainkan upaya menemukan ‘semangat baru’ darinya, misalnya lewat kecenderungan ekletisme, intertekstualitas, hibriditas atau ironi, yang didalamnya berbagai elemen trsdisi dikombinasikan secara ekletik, ironis bahkan kontradiktif. Tradisi tidak dipahami sebagai reproduksi melainkan produksi. Tradisi sebagai repetisi hanya dipahami di dalam masyarakat tradisional itu sendiri, yang tidak mempunyai konsep perubahan, transformasi dan masa depan.

Pendapat Piliang tersebut diatas agaknya mempunyai kesesuaian dengan apa yang kemudian berkembang pada masyarakat sekarang ini. Saat ini, sebagian besar masyarakat sudah menganggap kuno untuk menggunakan atau bahkan mengenal kebudayaan dan kesenian tradisional. Mereka banyak memanfaatkan kebudayaan modern atau kebudayaan asing sebagai style dalam berkesenian. Hal ini disebabkan oleh perkembangan teknologi modern yang semakin berpengaruh membuat kesenian tradisional kurang diminati. Hal ini bisa kita lihat dari antusias anak muda yang lebih memilih untuk menyukai musik modern dibanding musik tradisional.

Semakin majunya teknologi komunikasi dan informasi yang merupakan salah satu tanda dari era globalisasi memungkinkan masyarakat bisa menikmati berbagai alternatif hiburan yang ditayangkan oleh televisi dan bisa merubah minat masyarakat terhadap seni yang sifatnya etnik, sehingga penggunaan kesenian tradisional menuntut penyesuaian dengan selera masyarakat yang berubah tersebut. Penyesuaian tersebut bisa diwujudkan dalam sebuah perubahan.

Pada masa kini kegiatan memproduksi barang yang mengandung unsur seni telah dicap sebagai industri kreatif oleh pemerintah. Bahkan pemerintah Indonesia telah menetapkan Industri kreatif menjadi salah satu andalan dalam menghadapi MEA. Beberapa negara di kawasan Asean bekerjasama dengn berbagai badan dunia telah mulai menyiapkan diri menghadapi era pariwisata kreatif dengan membentuk jaringan “kota kreatif”, “kota warisan”, “kota desain”, “pusat sains” dan sebagainya. The British Council (UK) melalui projek The British Council Creative Cities Project  sejak tahun 2008 telah meluncurkan kota-kota di Asean sebagai “Creative hub” yaitu Bandung (Indonesia) untuk kriya, Cebu City (Philipina) untuk mebel, dan Chiang Mai (Thailand) untuk perangkat lunak dan kriya.Walaupun demikian perupa Indonesia dalam menghadapi MEA tidak terlalu tergopoh-gopoh seperti halnya cabang seni yang lain semisal seni pertunjukan.

Kota-kota kreatif yang memiliki warisan budaya tradisi yang kaya seperti Yogyakarta, Bali, dan Surakarta tetap penting sebagai kota tujuan wisata yang dapat mengembangkan  pariwisata warisan budaya dan usaha dengan konsep nostalgia. Kota-kota yang selama ini  belum masuk daftar sebagai destinasi wisata utama tetap memiliki peran penting untuk mendukung pariwisata kreatif dengan menggali, menemukan, dan atau merevitalisasi budaya yang sudah ada dengan kreasi-kreasi baru yang memiliki nilai komersial dan nilai estetik. Salah satu kota yang berhasil menjadi perhatian dunia adalah kota Jember dengan even Jember Fashion Carnival.

Tiap-tiap daerah biasanya memiliki tradisi upacara ritual yang berciri agraris maupun maritim yang dapat dihidupkan dengan interpretasi baru dan kemasan baru. Beberapa contoh yang sudah dilakukan oleh masyarakat misalnya di Lembang-Bandung para petani mengadakan Festival Perang Tomat. Masyarakat kota Kutai Kartanegara menyelenggarakan Festival Lampion. Kota wisata Batu menyelenggarakan Festival Bantengan, serta kota-kota lain yang menyelenggarakan festival sejenis.

 

III

Pada bidang seni rupa (lukis, grafis, patung dan kontemporer) hal ini tidak begitu terasa dan kentara. Di Indonesia sendiri perkembangan seni rupa jika dilihat dari catatan sejarah akan terlihat perjuangan konsep dan artistik yang terbalut kepentingan politik. Beberapa konsep yang di gelontor oleh pemerintah Indonesia tidak sepenuhnya di terima oleh khalayak seniman. Semisal pandangan seni adalah produk budaya, pandangan ini dianggap sesat karena seni di buat berbasis kreatifitas bukan dari nilai-nilai budaya. Seni menghasilkan nilai-nilai baru yang dianggap sebagai mengembangkan nilai-nilai budaya.

Seni rupa kontemporer menjunjung tinggi prinsip pluralisme di mana kedudukan setiap media (lukis, patung, grafis, kriya, desain) dianggap sama tanpa adanya dikriminasi. Jika sebelumnya terdapat sistem hirarki yang tercermin dalam oposisi biner misalnya seni murni dengan seni terapan, kriya dengan desain, seni lukis dengan gambar, dan sebagainya, maka sekarang hirarki tersebut sudah runtuh. Seni kriya dan desain yang dulu dianggap  bukan seni murni saat ini memiliki kedudukan yang setara dengan seni murni.

Seni rupa kontemporer yang menganut paham pluralisme juga memberi peluang kepada para perupa untuk mengawinsilangkan berbagai kemungkinan seperti bentuk visual, media visual, teknik visual, bahan, dan sebagainya. Dalam tulisan kuratorial pada pameran Jakarta Contemporary Ceramic Biennale 2009 In Between Space of Contemporary Art, Rifky Effendy (2009, al.1) menyatakan sebagai  berikut: Perkembangan seni rupa kontemporer di wilayah Asia terutama Asia Tenggara, akhir-akhir ini menunjukkan suatu gestur yang dinamis. Beriringan dengan gejala ekonomi, sosial-politik, dan budaya masyarakat di wilayah ini, perwajahan seni rupa telah mengalami evolusi yang signifikan, setidaknya sejak awal dekade 2000-an. Globalisasi merupakan suatu kenyataan yang mendorong perubahan-perubahan dalam perilaku artistik dan cara pandang para seniman.

Perubahan paradigma dalam memandang sebuah praktik seni rupa tidak lagi berpijak pada keyakinan-keyakinan maupun pemahaman tunggal. Seringkali perubahan-perubahan ini pun menyisihkan atau melemahkan banyak kelompok-kelompok yang tadinya dianggap mapan dan teguh terhadap sebuah ideologi estetik. Tapi disisi lainnya, muncul kesempatan bagi yang tersisihkan atau termarjinalkan sebelumnya, untuk kembali mengisi ruang-ruang kehidupan budaya. Mungkin inilah berkah dari jaman pasca-modern, memecah sesuatu dominasi yang telah menjadi menara gading. Mendesentralisasi pusat yang tunggal menjadi pusat-pusat yang majemuk.

MEA ditanggapi sebagai hal biasa saja oleh seniman perupa dapat dikarenakan memang berdasarkan catatan sejarah, seni rupa di Indonesia tidak pernah terlepas dengan seni rupa yang ada di Barat. Timbulnya seni rupa kontemporer di Indonesia, pada dasarnya merupakan upaya pembebasan terhadap kontrak-kontrak penilaian seni rupa Indonesia yang telah baku dan dianggap usang. Terlebih sejak dulu hingga kini perhatian pemerintah Indonesia terhadap perupa sangat kecil. Seniman terbiasa berusaha sendiri tanpa berharap bantuan dari negara. Seniman membentuk lembaga-lembaga, komunitas seni secara bebas dan berjaringan kerja dengan lembaga-lembaga seni sejenis dari luar negeri.

Beberapa komunitas seni di Indonesia semisal Taring padi, pada beberapa kesempatan berkumpul diskusi sering terungkap seakan pemerintah mulai melirik suatu seni atau gerakan seni jika dianggap menguntungkan (pajak dan lain-lain). Hal ini memang terlihat menjadi paradoks karena disisi lain menggembor-gemborkan Seni, Kreatifitas namun sangat sedikit mengadakan pengembangan di bidang seni.

 

Sumber Bacaan:

“CreativeTourism2.0”online,HTTP://WWW.TRENDSOUTHEAST.ORG/OPINION/2012/6/7/CREATIVE-TOURISM-20 diakses 22 November 2014.

Effendy, Rifky, 2009. Jakarta Contemporary Ceramic Biennale 2009, In Between Space of Contemporary Art, online, http://jakartacontemporaryceramic.wordpress.com/jccb1-2009-2010/text/rifky-effendy/ Groslier, Bernard

Piliang, Yasraf Amir, 2007. Seni Pertunjukan Tradisi dalam Peta Seni Post modernisme dalam JurnalSeni dan Budaya Panggung Vol. 17, No.2 Juni –September 2007

Yani, Yanyan Mochamad, 2008. PIAGAM ASEAN, ASEAN SOCIO-CULTURAL COMMUNITY (ASCC) BLUEPRINT DAN INDONESIA 1 artikel Seminar Nasional “Sosialisasi  ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) Blueprint ”, Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, Bandung, 20 Nopember 2008.

Krisna Murti, 2012. “Intelligent Bacteria’s HONF Mengintervensi Sosial Via Fermentasi “ online http://lifepatch.org/Intelligent_Bacteria’s_HONF, diakses 22 November 2014.

 

View All

Leave a Reply