“Bukan-bukan” dalam Parodi Situasi, sebuah Vertigo ditengah Paradoks

“Bukan-bukan” dalam Parodi Situasi, sebuah Vertigo ditengah Paradoks

Menurut Louis Althusser, ideologi berperan dalam masuknya kita ke dalam tatanan simbolis (bahasa) dan dalam konstitusi kita sebagai subjek (seseorang)[1]. Cara pandang Althusser ini saya gunakan untuk memahami pokok subjek dalam pameran ini. Seperti yang diutarakan Hawari:

’’Sedar atau tidak politik sudah meresapi dalam kehidupan seharian samada dalam institusi kekeluargaan mahupun kerajaan itu sendiri. Kebiasaan inilah yang membuatkan kita berperasaan patriotik, bersatu, demokrasi, menentang, menilai dan sebagainya. Semasa kita kecil jugalah setiap perbuatan yang terarah kepada sesuatu yang memerlukan jawapan, kita akan cenderung kepada pandangan dan juga perintah ibu bapa, dan tidak mustahil pengaruh kuat ibu bapa itulah yang akan menentukan apa saja pilihan kita.’’

Ideologi mengarahkan kita pada pembentukan ide/gagasan menjalani hidup. Ideologi tentu saja, sebagaimana keyakinan Althusser tidak disadari, ia telah menjadi sebagai sebuah ritus sehari-sehari dengan perangkat-perangkat materialnya, bahkan ideologi akan sampai pada level keluarga seperti yang direfleksifkan oleh Hawari, yaitu pada perintah ibu-bapa, yang ikut memberikan dan menentukan pilihan kita. Dalam memahami cara kerja ideologi, Antonio Gramsci merumuskan ideologi sebagai gagasan, makna, dan praktik-praktik yang, meski tampak seperti kebenaran-kebenaran universal, sebenarnya merupakan peta-peta makna yang menyokong kelompok-kelompok sosial tertentu. Baginya, yang paling penting, ideologi bukanlah sesuatu yang terpisah dari aktivitas-aktivitas praktis kehidupan, melainkan fenomena material yang memiliki akar dalam kondisi sehari-hari.

Bagi Gramsci, semua orang melalukan refleksi atas dunia dan, melalui ”akal sehat” (common sense) tentang budaya popular, mengatur hidup dan pengalaman mereka. Dengan demikian, akal sehat menjadi sebuah situs konflik ideologi. Akal sehat menjadi tempat pertempuran ideologis paling penting karena ia merupakan tempat bercokolnya hal-hal yan ”sudah diterima sebagai kewajaran” (”taken for granted”), tempat bersemayamnya kesadaran praktik yang membimbing tindakan sehari-hari kita[2].

Pada titik inilah, karya-karya Hawari dapat kita pahami, sejumlah karya-karya dua dan tiga dimensinya ini dengan sengaja justru mengambil antropologi benda-benda, yaitu materialitas sehari-hari yang Hawari yakini juga memiliki muatan ideologis-Gramsci, atau mitis-Barthes. Lihat pada karya-karya Bou(m)quet, Cerita sebuah negeri dongeng di zaman millennia, Rapuh, Senjata makan tuan, Bukan Ai Wei-Wei, Mona kini lebih advance, Bukan-bukan dongengan #1-5. Pada masing-masing karya ini, Hawari melakukan praktik simbolisasi, sekaligus estetetikasi atas berbagai lambang-lambang kekuasaan. Pilihan ikon-simbolnya, meminta kita untuk mencari sendiri tautannya dengan citra kekuasaan: bunga, kartu poker, berbagai gerak tangan yang terpasung, anjing hitam yang menggit jari, perangkat besi, sosok yang memakai kaus ”never sorry’’, hingga perangkap besi. Pada sejumlah deretan imej dengan bingkai klasik, kita bisa melihat gestur sosok perempuan/laki? Yang sedang duduk, berdiri, dengan aksi dramatik dengan latar kontras: “barat-timur”, dengan suasana interior klasik, hingga lanskap padi.

Hawari dengan sengaja menjadikan pameran ini sebagai sebuah refleksinya atas dirinya, dengan masyarakatnya dan konteks politiknya, sebagaimana dalam pernyataanya:

“Saya cuba mengkritik masyarakat dan persekitaran saya terhadap apa yang saya lihat, saya dengar dan saya baca, dan ini merupakan respon saya sebagai seorang seniman yang peka dengan cara saya sendiri.

Perasaan marah saya cukup membuak-buak apabila semua benda dalam kehidupan ini sudah dipolitikkan. Samada dari isu semasa, pendidikan, agama dan malahan seni itu sendiri sudah dipolitikkan. Kekuasaan politik itu semakin menjadi-jadi dan dijadikan sebagai agenda penting dalam mencapai apa sahaja hasrat.”

Sebagai sebuah isu, refleksi Hawari dapat mengingatkan kita pada apa yang diteorisasi oleh Gramsci mengenai dua konsep masyarakat, yaitu masyarakat sipil (popular) dan masyarakat politik. Masyarakat politik adalah aparat negara yang melaksanakan fungsi monopoli negara dengan koersi, yang di dalamnya meliputi tentara, polisi, lembaga hukum, penjara, semua departemen administrasi yang mengurusi pajak, keuangan, perdagangan dan sebagainya. Masyarakat sipil adalah wilayah dimana relasi antara kelompok tidak dilakukan dengan koersi. Maka Gramsci mengatakan bahwa masyarakat sipil mencakup organisasi-organisasi privat seperti gereja, serikat dagang, sekolah, dan termasuk juga keluarga. Hawari menempatkan posisi kritisnya atas pembacaanya mengenai dua jenis masyarakat itu.

“Saya lahir dalam kehidupan tahun 80an dan sempat menikmati cara hidup anak-anak 80an yang semasa kecil menonton tv selepas jam 4 petang kerana siaran rancangannya kurang dan kebanyakkan berita hanya berada didada-dada akhbar dan siaran percuma melalui bualan di kedai-kedai kopi.”

Hawari, saya kira menjelajahi permenungannya atas dua konsep masyarakat itu, baik dalam ranah ’politik’ dan ’popular’. Sebagai generasi yang lahir diera post-industrial, Hawari adalah satu seniman yang bagi saya tertarik pada persoalan ideologi sebagai sebuah diskursus yang memadati kehidupan sehari-hari melalui ”common sense”. Ideologi mengendap di wilayah budaya budaya popular. Proyek pameran ini saya kira adalah sebuah perjalanan kritis-kreatif Hawari untuk menelisik selubung berbagai ’’ideologi” yang tidak punya sejarah seperti yang dikatakan oleh Althusser. Kita tahu bahw ideologi menjadi unsur penting dalam formasi sosial. Dalam kaitannya dengan formasi sosial ini, hegemoni menjadi hal yang diperebutkan oleh kekuatan dominan dan subordinat. Hegemoni bersifat sementara oleh karena ia menggunakan forma-forma yang selalu direproduksi terus-menerus.

“Jika saya gambarkan pameran saya ini seperti menonoton filem di panggung wayang, bukan-bukan itu merupakan tajuk filem saya. Kehidupan sosial merupakan jalan ceritanya dan saya sendiri sebagai hero dan politik itu sebagai latar dan sinematografinya. Filem ini (karya) dalam bentuk parody yang mana tafsiran penceritaannya terpulang kepada penontonnya samada mahu menilai dalam bentuk positif atau negative.

Ini mungkin suatu protes saya terhadap keadaan semasa termasuklah isu dan polemic yang berlaku dalam kehidupan seharian”

Sosiolog Dick Hebdige mengatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari suatu komoditas dapat saja direbut kembali secara simbolik dan diberi makna secara oposisional. Tepat disinilah, bagi saya Hawari melakukan strategi oposisional, bahwa Hegemoni bisa saja dipatahkan, disanggah dan dibatalkan[3]. Untuk melihat cara kerja forma-forma ideologis ini pendekatan paraodi digunakan oleh Hawari, oleh karena forma-forma yang ia periksa memanifestasikan dirinya dengan tanda. Pameran ini merupakan salah satu proyek penting Hawari yang menarik dalam kaitannya sebagai sebuah bentuk analisis atas bekerjannya ideologi melalui berbagai praktik-praktik penandaan. Proyek ”Bukan-bukan” ini bagi saya, tidak lain adalah bentuk vertigo seorang subjek-Hawari atas realitas yang paradoks.

 

Sudjud Dartanto, Kurator, dan pegiat Cultural Studies

 

[1] Chris Barker, hal. 74-75.

[2] Ibid, hal.80.

[3] Ibid, hal. 34-35.

 

View All

Leave a Reply